Latarbelakang : Sebenarnya posting ini tidak sesuai dengan konsep saya untuk tulisan di rumahalinda (dimana sudut pandang tulisan adalah dari seorang Ibu kepada anaknya) namun karena saya mendapatkan beberapa komentar dan email terkait tulisan sebelumnya , daripada jawaban private via email , lebih baik saya posting saja.
Sebelumnya saya mohon maaf karena tulisan ini berdasarkan apa yang saya dan Ayah Sigit pikirkan, pertimbangkan dan lakukan. Mudah2an menginspirasi buat Ayah Bunda yang lain dalam memilih Sekolah yang baik untuk Ananda kita.
Disini saya katakan “Sekolah yang Baik “ jadi bukan yang “Terbaik” karena ini adalah penilaian saya pribadi dimana ada keterbatasan ilmu, informasi maupun pengalaman ketika saya harus memilih, sehingga boleh jadi best of the best adalah penilaian yang subjektif.
Latar Belakang saya memilih sekolah dengan mempertimbangkan hal hal berikut :
(1) Jarak dari Tempat Tinggal ke Sekolah serta Transportasi Pendukung
(2) Biaya Pendaftaran
(3) Biaya tahun pertama (biasanya dapat dicicil 2 – 3 x sebelum ujian semester I)
(4) Biaya Rutin Bulanan (di luar uang jajan , snack /makanan selingan, tabungan)
(5) Kurikulum dan hal – hal yang terkait pengajaran
(6) Sarana dan Prasarana Sekolah
(7) Prestasi yang dicapai Sekolah
(8) Testemoni atau pengalaman para kenalan ataupun tetangga perihal Sekolah tsb
Ini adalah dasar saya memilih sekolah untuk Sigit.
Domisili Rumah saya di Bekasi Utara maka SDIT yang dipilih adalah :
SDIT Al Muchtar - Kaliabang Tengah – Villa Mas Garden
MI Annur - Kaliabang Tengah
SDIT Taufiqurrahman – Permata HIjau
SDIT Avicenna - VIP
SDIT Bani Saleh 4 – Seroja
SDIT Al Manar – Wisma Asri
SDIT Al Husna – Wisma Asri
Setelah dapat nama sekolah tsb, saya mulai berkunjung ke sana dan memperhatikan speedometer motor untuk mengukur jarak dari rumah , melihat transportasi yang bisa digunakan menuju sekolah dan sekaligus survey gedung sekolah.
1 tahapan untuk 3 maksud tersebut langsung menggugurkan beberapa sekolah.
Ketika itu pilihan saya tinggal : SDIT Al Muchtar, SDIT Taufiqurrahman, SDIT Bani Saleh 4
3 sekolah ini saya bandingkan di Biaya Pendaftaran dan biaya Pertama untuk gelombang I tahun 2009 :
| No | Nama Sekolah | Biaya Pendaftaran | Biaya Awal (termasuk spp Juli) | Keterangan |
| 1 | SDIT Bani Saleh 4 | Rp 100.000 | Rp 4.521.000 | Termasuk uang buku 1 thn |
| 2 | SDIT Taufiqurrahman | Rp 80.000 | Rp 3.870.000 | Termasuk buku 1 semester
Rp 325.000 |
| 3 | SDIT Al Muchtar | Rp 175.000 | Rp 3.560.000 | Belum termasuk buku .
buku 1 semester Rp 400.000 |
Sepertinya perbedaan biaya tidak mencolok , hanya beda tipis dan masih masuk dalam budget.
Kemudian saya bandingkan dengan biaya rutin bulanan dan inilah yang akan menjadi anggaran tetap keluarga :
| No. | Nama Sekolah | Biaya SPP | Biaya Katering
@ Rp 6.500 (x20hr) |
Biaya Ojek Bulanan | Total |
| 1 | SDIT Al Muchtar | Rp 175.000 | Rp 130.000 | Rp 100.000 | Rp 405.000 |
| 2 | SDIT Taufiqurrahman | Rp 145.000 | Rp 130.000 | Rp 200.000 | Rp 475.000 |
| 3 | SDIT Bani Saleh 4 | Rp 230.000 | Rp 130.000 | Rp 350.000 | Rp 710.000 |
Akhirnya SDIT Bani Saleh 4 gugur karena biaya bulanan yang cukup tinggi.
Sebenarnya secara jarak lokasi sekolah dan rumah, SDIT Bani Saleh 4 sudah masuk ring 2 , karena cukup jauh, hampir sama dengan jarak ke SDIT Al Husna.
Namun SDIT Bani Saleh 4 masih masuk tahapan berikutnya karena SDIT Bani Saleh 4 adalah SD tersehat se Bekasi Utara. Walaupun lokasinya dekat dengan pasar dan terminal angkot 07 – Seroja, tapi masih masuk ke dalam komplek RSIJ Harapan Jaya,sehingga crowded tersebut tidak mempengaruhi proses belajar mengajar. Sekolahnya putih dan mendapat cukupan matahari. Segar! Selain itu kamar mandinya bersih sekali. Maklumlah Sigit ini termasuk anak yang memiliki tingkat alergi yang tinggi terhadap banyak hal termasuk debu , polusi dan cuaca.
Dengan pilihan yang tinggal 2 , akhirnya saya memutuskan Sigit masuk ke SDIT AL Muchtar adalah karena hal yang sepele ,yaitu SDIT Taufiqurrahman belum diberi pagar teralis di sepanjang tembok sekolahnya. Selain itu tahun lalu sempat diliburkan karena jalanan menuju ke sekolah terkena banjir. Padahal ini adalah pilihan utama Sigit, maklumlah sebagian besar teman TKnya masuk ke sekolah ini, demikian juga 2 tetangga yang merupakan teman sepermainan setiap sore hari .
Nb. Pilihan anak tidak menjadi pertimbangan saya , tapi pilihan anak bisa direcovery.
Contoh : ketika survey gedung, Sigit saya berikan masukan yang positif tentang sekolah yang saya prioritaskan. Ketika ke SDIT Bani Saleh saya katakan , “wah sekolahnya bersih banget ya ?” Ketika di SDIT Al Muchtar, Sigit saya ajak naik sampai ke lantai 4, dan saya katakan, “wah sekolah ini tinggi amat ya ?” Padahal kebetulan saja lokasi kelas 1 dan 2 adalah di Gedung SMPIT Al Muchtar. Gedung SDIT sendiri di bagian belakang (tepi kali) kurang representative tampilannya karena masih dalam tahap pembangunan. Berdebu dan berantakan, jalan masuk ke sekolah pun tidak jelas, adapun jalan alternative ke Gedung SDIT melewati gang kecil melewati depan rumah penduduk. Merubah mindset itu ternyata cukup jitu sehingga Sigit punya kebanggaan baru dan melupakan pilihan sebelumnya.
Catatan tambahan :
Ternyata tanpa disadari alam bawah sadar saya dalam hal ini, membandingkan juga antara sekolah dasar saya dulu dengan pilihan sekolah untuk anak saya saat ini . Kebetulan SD saya dulu tinggi pagarnya 3 M , lingkungan sekolah yang amat baik serta fasilitas yang bagus dilengkapi dengan taman dan paparan rumput hijau diantara gedung. SD saya itu berada satu kompleks dengan TK, SD, SMP, SMA , Perguruan Tinggi , namun pembagian ruang tidak membuat saya harus bersinggungan dengan siswa dari jenjang lain (TK, SMP, SMA, PT) . Sekolah tanpa AC namun bentuk ruangan yang mengikut gaya Belanda memenuhi syarat pertukaran udara yang cukup. Sekolah disiplin , ekstra kurikuler dan kurikulum yang bagus, pengajar yang berdedikasi. Cuma satu kurangnya , SD saya ada di kota Medan bukan di Bekasi.
Next story
Ketika pilihan sudah ditetapkan, banyak hal hal positif yang saya temukan terkait SDIT Al Muchtar dan meningkatkan keyakinan insya allah sekolah ini baik untuk anak saya.
Misalnya : Untuk kelas 1 dan kelas 2 , siswa belajar dalam bentuk meja kelompok. Satu meja terdiri dari 6 anak. Belajar dengan metode active learning. Dan tidak ada peer (kecuali hari Jumat , itu pun sesekali).
Testemoni dari teman commuter , anak laki-lakinya yang tamat dari SDIT Al Muchtar, hafidz Juz amma, naik kelas 4 SD tanpa ikut TPA sudah naik ke Al Qur’an , tidak ikut les bahasa Inggris insya allah cukup menguasai Bahasa Inggris.
Selain itu karena lokasi SDIT Al Muchtar itu hanya berjarak 10 m dari jalur angkot 15 A, maka apabila tukang ojek langganan tidak bisa menjemput, pengasuh Ira, masih bisa diberdayakan menjemput dengan menggunakan angkot dari rumah. Selain itu karena satu jalur dengan perjalanan saya ke kantor, maka untuk keberangkatan bisa sekalian diantar , lebih hemat biaya transportasi.
Nb. Salah satu masukan dari Ayah Sigit bahwa jarak yang jauh antara Sekolah dan Rumah tidak boleh dianggap sebagai halangan utama bagi pemilihan sekolah, karena putra putri kita akan semakin besar dan insya allah tubuhnya semakin tumbuh berkembang, sehingga “mungkin” terlalu kecil saat ini naik sepeda ke sekolah, 3 – 4 tahun lagi bersepeda sudah menjadi hal biasa baginya . Maklumlah beliau dulu besar di kota kecil di Jawa Tengah dimana lazim bersekolah naik sepeda (kalau tidak salah antara 5 – 7 km setiap hari) dan menurut beliau pengalaman bersepeda itu bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan fisik serta dirasakan sampai saat ini. Atau semakin besar anak menjadi berani menggunakan kendaraan umum sendiri (misalnya naik angkot).
Mudah-mudahan penjelasan saya bisa menginspirasi, ayah dan bunda untuk menentukan sekolah yang baik bagi putra putri kita.
Sekolah yang baik dimana dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan, wawasan bagi Ananda serta meningkatkan aqidah dan ibadah di kehidupannya kelak , berguna bagi Nusa , Bangsa dan Kedua Orang tuanya . Doa Anak Yang Sholeh adalah amal kebajikan yang masih diterima oleh orang tua dikala telah tiada. Amin

