Ira !
Ini huruf apa ?
Ini adalah pertanyaan rutin untuk Ira setiap hari.
Selain bahwa Ira pun harus masuk playgroup sekali lagi ..
Ya ..
Umur 2 tahun 7 bulan, Ira dimasukkan ke kelompok bermain oleh Ibu, karena ketika itu Sigit yang telah kelas B berhasil membuat Ira menjadi iri hati, sehingga ingin sekolah.
Namun ketika Sigit berpindah ke SDIT, maka Ira pun berpindah hati, memilih tetap di rumah, bermain boneka sendiri.
Setelah istirahat 7 bulan dari kelompok bermain tersebut, dengan tragedy buah belimbing, sebenarnya Ibu tidak tega memaksa Ira, karena buat ibu , Ira baik baik saja, tapi Mama Jefri membuat Ibu harus tega mendisiplinkan Ira.
Sayangnya Ira bukan Sigit
Betapapun Sigit tidak terlalu menyukai pergi ke sekolah, tapi Sigit bisa mematuhi bahwa dia harus pergi sekolah. Ira menerapkan aturan juga untuk Ibu, bahwa Mbak harus ikut sekolah bersamanya. Okey lah baik .. memang Mbak pengasuh yang akan mengantar jemput Ira ke sekolah. Ternyata bukan ini yang dimaksud oleh Ira, tapi Mbak pengasuh harus masuk ke dalam kelas. Belajar bersama Ibu guru yang sama, mengerjakan hal yang sama yang dilakukan oleh dan Ibu hanya bisa memohon kesabaran Mbak untuk menuruti kemauan Ira, sembari bercanda ke Mbak , Ibu bilang , “dulu kan kecil gak sempat TK kan? Langsung SD kan? Jadi TK diulangnya sekarang aja hehehehe “
Secara bertahap Mbak pengasuh memang akhirnya bisa melepaskan diri dari dalam kelas. Dari yang seharian dikelas, berkurang dengan duduk di kelas hanya sampai jam istirahat, kemudian meningkat dengan duduk di bawah jendela kelas, duduk di ayunan seberang kelas, duduk di luar pagar sekolah, sampai akhirnya Ira pun mandiri sebagaimana anak lainnya. Tapi itu tentu saja membutuhkan waktu 5 bulan . Dengan bercanda Ibu bilang bahwa Mbak sudah bisa melamar jadi guru TK , mengingat selama di dalam kelas Mbak pengasuh juga membantu Ibu guru yang harus membagi perhatian kepada 10 anak kecil lainnya.
Untuk mengejar ketinggalan dengan sepupunya , Hafidz yang di Medan, Ibu pun mencari tahu , metode atau buku apa yang tepat untuk mengajarkan anak Membaca dengan cepat. Di sekolah Ira biasanya menggunakan buku “Anak Islam Suka Membaca karangan Nurani Musta’in, S.Psi, yang terdiri dari 5 jilid”, tapi itu baru diperkenalkan saat kelas A nanti.

Ibu menemukan di salah satu milis emak emak yang Ibu ikuti bahwa buku “Abacaga – Cara Praktis Belajar Membaca Untuk Anak 4-6 tahun karangan Jazuli – Budiman-Tri Wahyu R.M, berhasil membuat anaknya bisa membaca lebih cepat. Dengan cepat pula buku itu Ibu hadirkan dirumah.
Aktifitas menjelang tidur kita pun berubah, dari acara mendongeng sebelum tidur, menjadi Abacaga sebelum tidur.
