Ira !
Ini huruf apa ?
Ini adalah pertanyaan rutin untuk Ira setiap hari.
Ketika sudah mulai tahapan pembelajaran dengan buku A Ba Ca Ga ..
Maka Ira dan Ibu mulai membaca dengan tahapan yang baru ..
A
Ba
Ca
Ga
Demikian seterusnya ..
Dan pembelajaran pun tidak menjadi rutin lagi karena Ira masuk ke TK A .
Berbeda dengan ketika Sigit TK A dulu, les calistung ditawarkan pada bulan November , sedangkan pada masa Ira , les calistung sudah dijadwalkan pada bulan Agustus, tepat sebulan setelah Ira masuk TK A.
Kali ini Ibu tanyakan ke Ira terlebih dahulu untuk memastikan niatnya
“Ira mau ikut les atau tidak ?”
Ikut
“Tapi ibu gak punya duit “
Ibu minta sama Ayah
“hmm gini aja .. pokoknya kalau Ira sudah bisa baca Koran, Lesnya berhenti ya “
Ini adalah cara ibu untuk memotivasi Ira agar serius belajar, selain tentu saja Ibu juga telah berlangganan majalah Princess untuk Ira. Selama ini Ira hanya melihat gambar dan meminta tolong Ibu atau Mbak pengasuh untuk membacakan. Harapan Ibu agar Ira semakin tertarik belajar membaca. Ibu menyadari bahwa memaksa anak usia bermain untuk membaca adalah tidak tepat, tapi jika motivasi membaca datang dari si Anak maka bagi si Anak kegiatan ini adalah bentuk lain dari bermain.
Perkembangan Ira dalam hal membaca sangat pesat, Ibu membandingkan antara buku jilid Anak Islam Suka Membaca milik Abang dengan milik Ira, terlihat Ira jauh lebih cepat pindah halaman, pindah bacaan, menyenangkan sekali melihat Ira yang semangat belajar setiap malam. Hal yang berbeda dengan Abang, walaupun tentu saja ini agak mengganggu kenyamanan Ibu … dulu Abang tidak pernah mengajak Ibu belajar membaca di malam hari , bahkan Ibu tidak pernah tau perkembangan Abang, tiba tiba Abang sudah membaca segala hal yang tertulis di badan Angkot.
Setiap anak memang berbeda.(link ke Kecerdasan Anak)
Dan dalam hal perkembangan membaca Ira, Ibu mendapatkan pencerahan bahwa kecerdasan saja tidak cukup, tapi ada peran keberanian dan percaya diri disana.
Sigit ketika baru pertengahan jilid 4 sudah mengeluarkan kemampuan membacanya, dengan percaya diri membaca apa saja yang dilihat, salah benar soal belakangan , kadang tertulis KHUSYUK , dibaca oleh Sigit “kursus” … dan nanti Ayah dan Ibu akan membetulkannya.
Tapi Ira yang sudah sampai tinggal 5 lembar lagi jilid 5, masih tidak berani membaca tulisan di Koran dengan keras. Ntah kenapa …. Sepertinya Ira masih terbiasa membaca dengan sistem suku kata jadi seperti kehilangan orientasi huruf ketika kata tersebut menjadi kalimat .
Misalnya : Majalah Femina >>>> ini sulit dibaca oleh Ira
Tapi jika tertulis : ma ja lah fe mi na >>>> dapat dibaca Ira dengan lancar.
Sepertinya Ira kehilangan kepercayaan diri dalam melepas kata tersebut menjadi suku kata dan menggabungkannya dalam satuan bunyi
Hanya saja, sebagaimana kemampuan anak yang berpindah dari tahapan tengkurap, berguling, merangkak, berdiri , berjalan , dan hanya si anak yang tahu kapan tepatnya dia berpindah phase, demikian juga dengan membaca. Tanpa disadari tiba tiba saja Ira sudah lancar membaca Koran dan terus membaca seluruh koleksi Majalah Princessnya dilahap habis.
“ Ibu, nanti Ira tak mau les lagi kalo sudah naik TK B, karena Ira sudah bisa baca Koran” katanya bangga sambil menunjukkan Koran Republika
