Ketika bermain bola , sepatu ataupun sandal menjadi batas gawang dan Sigit bermain santai diatas semen yang panas dengan kaki telanjang. Ketika adzan magrib Sigit terburu –buru lari ke dalam rumah, masuk kamar mandi, dan baru merasa kehilangan sandal ketika akan menuju mushola untuk sholat. Tanpa berpikir panjang Sigit akan menggunakan sandal jepit Ibu dan tidak berusaha mencari dimana sandalnya sendiri. Biasanya Ayah yang menemukan sepasang sepatu yang tergeletak pasrah di gang depan rumah.
Bibi Tengah Pekayon yang paling sering menegur Ibu karena Sigit lebih senang menggunakan sandal dibandingkan sepatu. Sigit pun mulai memilih menggunakan sepatu Sandal dengan alasan ini Sepatu tapi seperti Sandal sehingga mudah untuk dibuka dan dikenakan kembali. Selain itu iklan Sepatu Sandal Homyped berhadiah motor balap juga menjadi pemicu. Sayangnya Sepatu Sandal yang seharusnya menjadi alas kaki ketika bepergian pun berubah juga menjadi penutup kaki Sigit ketika bersekolah.
Kelas 1, kelas 2 , Sepatu tertutup milik Sigit berakhir di kotak Sepatu dengan kondisi bagus dan terawat. Tentu saja karena sangat jarang dipakai, sehingga setiap kali Ibu harus membeli ukuran yang baru sedangkan sepatu yang lama masih layak pakai tapi sudah kesempitan.
Ketika kelas 3, di bulan pertama sekolah, Sigit yang sudah terlambat meminta Ibu mengantarkan sampai ke depan kelas. Sembari menunggu Sigit yang sedang membuka Sepatu sandal di pelataran depan tangga, Ibu berdiri di belakang Sigit sambil sibuk ber-sms dengan seseorang. Ibu kepala Sekolah mendatangi Sigit dan berjongkok sehingga sejajar dengan Sigit dan berkata dengan lembut , “Nak, besok pagi sepatu olahraga ya , jangan pakai sepatu sandal.” Saat itu Ibu hanya diam saja dan beliau tidak bicara apapun dengan Ibu , hanya tersenyum pengertian saat kami saling bertatap mata.
Ibu merasa bahwa ini adalah cara menegur yang nyaman, mungkin jika beliau menegur ke Ibu, maka Ibu akan langsung memarahi Sigit, karena sesungguhnya Ibu setiap 6 (enam) bulan membelikan Sigit sepatu olahraga yang baru, tetapi Sigit bersikeras tidak mau memakainya, dengan alasan tidak cepat memakai sepatu saat mau jajan di kantin pada jam istirahat..
Menurut Ibu, beliau tepat ketika yang ditegur adalah Sigit, si pengambil keputusan dan beliau melakukan teguran itu dengan mensejajarkan tinggi tubuh dengan Sigit.
Ibu pernah menonton acara “The Nanny” di Metro TV dimana dikatakan bahwa cara yang efektif menegur seorang anak adalah dengan berdiri sejajar dengannya. Jika Anda berdiri tegak berhadapan dengannya, maka seorang anak sudah merasa terintimidasi dan akibatnya kurang efektif dalam berkomunikasi, sehingga pesan ataupun makna dari teguran tersebut tidak diterima dengan baik oleh si Anak.
Sampai di rumah usai mengantarkan Sigit, Ibu langsung meminta Ayah untuk sore ini juga membeli sepatu tertutup untuk Sigit, karena jika menunggu Ibu maka pembelian baru dapat dilakukan 2 hari lagi , ketika Ibu libur di hari Sabtu. Itu sudah terlalu lama, Ibu merasa juga bertanggungjawab untuk memperbaiki Sigit karena teguran itu bukan hanya untuk Sigit tetapi juga untuk Ibu.
Ayah membelikan Sigit sepatu merek NorthStar di toko Sepatu Bata- Giant Wisma Asri. Dan Model itu pilihan Sigit , tanpa tali dan dengan 2 jepretan untuk pengikatnya. Sayangnya Sepatu ini hanya digunakan Sigit selama 2 minggu.
Kenapa Nak ?
Alasan pertama keberatan Sigit adalah jika digunakan untuk main sepakbola, sepatunya bisa ikut melayang ketika Sigit menendang ke gawang. ??? ternyata Ibu baru lihat bahwa salah satu jepretan – ‘perekat sebagai pengganti tali sepatu’ - di sepatu sebelah kiri tidak merekat dengan kuat sehingga mudah lepas jika kaki bergerak terlalu keras. Alasan kedua , kata Sigit , Ibu kepala sekolah sudah diganti dan bapak kepala sekolah belum tahu kalo Sigit tidak pake Sepatu tertutup.
Aduh aduh …
Akhirnya sampai 2 bulan berikutnya, Sigit kembali lagi ke Sepatu Sandal Carvil kesayangannya.
Sampai suatu hari , Sigit berkata ke Ibu, “Kata Bapak guru, besok Sigit suruh pake Sepatu olahraga?”
Hmm …
“Oh ya , tadi waktu pelajaran Olahraga ketauan Bapak guru ya, kalau Sigit pake sepatu Sandal ? “
Iya ..
“terus Sigit bilang apa ? “
Kata Sigit ke Bapak guru , “ Kaki saya sedang sakit, Pak “
“Emang sakit ??”
“Iya “ dan Sigit pun menunjukkan telapak kakinya yang terkelupas.
Aduh Sigit makanya jangan suka nyeker kalau main bola .. tuh kan kakinya jadi sakit benaran kan ?
Hanya saja kali ini Ibu harus turun tangan memilih sepatu untuk Sigit, mengingat Ayah sudah pernah gagal membelikannya. Cuma terpaksa tertunda 4 hari untuk pelaksanaannya karena Ibu libur kerja di hari Sabtu dan Minggu. Maka hari Sabtu kita pun pergi ke Metmal Bekasi dan ke toko Bata, karena memang tidak banyak pilihan toko sepatu di sana, jika nanti tidak ditemukan yang cocok, Ayah harus mengantarkan kita ke Pasar Baru – Jakarta , di sana pasti lebih banyak pilihan.
Pilihan Sigit jatuh pada Sepatu Spec warna hitam.
Kali ini Ibu dan Ayah benar-benar memastikan perekatnya kuat.
Hari Senin pun tiba, di hari pelajaran Olahraga, kali ini dengan tersenyum senang Sigit mengenakan Sepatu dan Kaos Kaki baru menuju sekolah.
