artikel terkait dengan tulisan ini : Batita Yang Sakit Tipus
****Dokter Tan, saya seorang Ibu yang sedang bingung. Beberapa hari lalu, anak saya yang berusia tiga tahun terkena tifus tinggi dan flek paru. Dia harus menjalani rawat inap selama 8 hari.
Mengapa juga bisa secepat ini menimpa anak saya ? Kemudian upaya apa yang harus kami lakukan supaya si kecil tidak terkena lagi ? Apakah harus menjalani imunisasi tifus? *****
ini adalah pertanyaan yang mengawali artikel tulisan dr Tan Shot Yen, M.Hum di Tabloid Nyata November 2011 .
Berikut jawaban dan solusi beliau :
Menilik apa yang terjadi pada anak Anda, saya prihatin dengan kesehariannya di rumah. Balita masih senang bermain dengan memasukkan apa saja ke mulutnya. Dari empeng (kenyotan) yang sudah berkali- kali jatuh atau kena debu atau dipegang orang yang tangannya tercemar kuman tifus, hingga peralatan makan dan makanan / minuman yang memang sudah terkontaminas. Kebiasaan menyuapi anak di depan rumah sambil pengasuhnya ‘ngerumpi’ bukan hal yang patut dipertahankan. Sekalipun saya sering melihat wadah makanannya diberi tutup, tapi ketika menyuap dan menyendok, debu yang tak terlihat berhamburan menempel.
Penyakit ke dua yang cukup berat pun tak luput mendera si kecil. Istilah ‘flek paru’ sebenarnya secara terbuka bisa kita sebut TBC (Tuberkulosis) paru.
Sekali lagi, inipun penyakit menular, yang ditulari oleh orang orang di sekitarnya. Seperti teman bermain, pengasuh hingga orang lain yang Anda biarkan mencium anak bila bertemu.
Berat sekali tubuh sekecil itu harus menghadapi dua penyakit sekaligus yang mempunyai kecenderungan menahun dan membutuhkan kekebalan tubuh tinggi untuk mampu menanggulanginya, sekaligus pada saat yang sama harus tumbuh kembang.
10 SOLUSI HINDARI TIFUS dan TBC
• Cuci bersih semua perabotan anak, mainan dan sebagainya, usai digunakan. Masukkan dalam wadah khusus atau kantong buatan sendiri (mirip sarung bantal raksasa) agar tetap bersih.
• Periksakan semua orang yang serumah, agar Anda yakin bukan mereka yang menjadi sumber penularan.
• Biasakan lantai tempat anak bermain dalam keadaan bersih (alas kaki yang dipakai diluar rumah, ‘parkir’ di luar rumah) Melarang anak main di lantai bukan jalan keluar, bahkan menghambat tumbuh kembangnya secara kinestik untuk bereksplorasi.
• Sediakan sabun cair (bukan batangan) di kamar mandi untuk membersihkan tangan usai ‘cebok’.
• Tidak hanya wajib minum air yang dimasak atau minum air kemasan, tapi wadahnya juga harus bebas kuman.
• Jangan biarkan pengasuh atau siapapun meniup makanan si kecil. Infeksi kuman TBC sangat mudah terjadi melalui cara ini.
• Jangan menganggap enteng demam pada anak, bisa jadi itu gejala awal tifus atau penyakit lain yang butuh penanganan dokter. Jangan pula terlalu sering memberikan obat penurun panas, karena bisa jadi bumerang bagi orang tua.
Perlu diingat, banyak anak yang akhirnya menderita banyak penyakit fatal akibat penggunaan ‘obat-obatan warung’. Lampu merah bagi saya bila demam anak atau batuk pilek sering ‘kumat’ lebih dari 3 kali dalam setahun, atau sekali batuk pilek tidak sembuh dalam seminggu, atau sekali demam bertahan lebih dari 3 hari.
• Ciptakan pola makan sehat seimbang dengan memasak sendiri.
HIndari makanan kemasan untuk bayi. Cuci dengan cermat makanan segar yang dimakan mentah dengan air mengalir, bilas dengan air matang dan langsung ditiriskan, simpan di kulkas. Menghindari infeksi saluran cerna bukan berarti sama sekali tidak lagi makan makanan segar, tapi kebersihan itulah kunci utamanya.
• Vaksinasi BCG usia bayi sangat dianjurkan.
TBC dapat dihindari melalui vaksinasi. TBC adalah penyakit endemic di negara berkembang seperti Indonesia yang pencegahannya sangat sulit, sekali pun anak mendapat makanan sehat yang cukup. Penularan TBC melalui kuman yang ditularkan dari percikan liur/cairan saluran nafas penderita lewat udara ke orang lain. Kita tidak bisa menebak siapa penderita dan mana yang bukan.
• Pengobatan tuntas yang diawasi dokter dengan antibiotika yang tepat terhadap kuman tifus dan TBC meringankan kemungkinan komplikasi / penyulit di kemudian hari. Berkomunikasilah dengan dokter bila ada pertanyaan atau keluhan. Banyak pasien ‘menjadi dokter’ bagi dirinya sendiri atau anak-anaknya, hal ini memperburuk kondisi infeksi, bahkan terjadi resistensi – kumannya terlanjur membangun kekebalan terhadap antibiotika tersebut. Nah kalau sudah begini, semakin pusing jadinya.
komentar : RumahAlinda
Setelah membaca artikel ini, sekarang di kamar mandi Ira dan Sigit sudah Ibu siapkan kotak sabun cair untuk cuci tangan dan sikat gigi kalian menggunakan tutup .. untung saja pasta gigi formula memberikan hadiah tutup sikat gigi yang bisa ditempelkan ke dinding kamar mandi.
Ibu memang penggemar berat dr Tan Shot Yen, M.Hum yang mengisi kolom Konsultasi di Tabloid Nyata dan meng-kliping sebagian besar Artikel tulisan beliau. Apabila beliau tidak berkenan dengan salin ulang tulisan di blog ini, mohon email ke bunda_sahira@yahoo.com, maka posting terkait akan saya hapus.

Wah, penting neh buat di catet tipsnya …
iya nih catat ya .. krn saya juga tipus kambuhan, makanya biar gak lupa , dicatat aja di blog
trims telah singgah