“Dimana nih kita menghabiskan oleh-oleh Coklat yang dibawa Unung dari Dubai?”
“Tergantung si Uki lah”
“Emang kenapa si Uki?
“Anaknya kan dirawat karena kena Tipus”
Itulah sebagian cuplikan messeger di grup BBM teman-teman SMA Ibu.
Ibu cukup prihatin karena anak teman Ibu itu umurnya 9 tahun . Dulu setahu Ibu , orang bisa kena tipus karena 2 penyebab : “Makan tak beres (yg sudah terdapat bakteri Salmonella) atau “Kecapekan/kurang istirahat (daya tahan rendah)” , maklumlah karena Ibu sendiri sudah pernah kena tipus.
Tapi kenapa akhir – akhir ini anak kecil cukup banyak yang kena tipus ya ??
Untunglah Ibu mendapatkan pencerahan dari tulisan dr Tan Shot Yen, M.Hum di Tabloid Nyata November 2011 .
Tulisan dibawah ini disalin ulang dari artikel beliau
Tipus adalah penyakit infeksi artinya penyakit yang disebabkan masuknya kuman penyakit ke dalam tubuh manusia. Kuman tersebut adalah Salmonella typhii yang disebarkan melalui makanan, minuman atau air yang tertelan.
Nah , dari sini jelaslah bahwa cikal bakal masalah terletak pada hygiene, alias gaya hidup bersih sehari-hari. Bersih bukan sekadar cuci tangan sebelum makan, tapi juga kebersihan dari peralatan makan dan makanan itu sendiri.
Saat bakteri tertelan, akan masuk ke saluran cerna dan menyebar melalui darah hingga mencapai kalenjar getah bening, kantung empedu, hati , limpa dan bagian tubuh lainnya.
Gejala awal bisa berupa demam (terutama sore menjelangmalam) , yang kadang turun tapi esoknya meroket lebih tinggi. Kemudian turun lagi sedikit, lalu semakin tinggi lagi (dikenal sebagai demam dengan “grafik gergaji”). Disusul perasaan lesu dan tidak enak badan , kadang juga nyeri daerah perut. Diare kadang muncul dan beberapa kasus malah seperti sembelit.
Secara teori, ada 4 tahapan gejala penyakit yang masing-masing tahapan berlangsung kurang lebih seminggu.
Minggu pertama : ditandai dengan demam seperti penjelasan di atas, sakit kepala, kadang disertai batuk. Pada orang yang rentan mimisan bisa terjadi dan nyeri tekan pada perut.
Saat ini pemeriksaan darah yang sering dikenal sebagai tes “WIDAL” masih negative.
Tapi terjadi penurunan jumlah sel darah putih dan kultur (pembiakan) darah terhadap kuman Salmonella typhii positif
Minggu ke dua pasca infeksi : pasien tetap panas tinggi hingga 40 derajat celcius, denyut jantung melambat dan pemeriksaan EKG memberikan gambaran yang khas.
Kadang saat tidur penderita bisa mengigau. Bintik kemerahan bisa muncul di dada dan perut pada beberapa kasus. Nyeri lambung sangat terasa, diare atau konstipasi sudah terjadi. Limpa dan hati membesar, nyeri tekan dan terjadi peningkatan enzim hati pada pemeriksaan lab sehingga sering dikira hepatitis.
Saat ini tes “WIDAL” positif kuat terhadap antigen O dan antigen H (artinya tubuh pasien sudah membentuk perlawanan, menghasilkan antibody sendiri terhadap kuman tipus).
Bila serum darah pasien dipertemukan dengan partikel kuman tifus (bagian ‘tubuh’ kuman disebut antigen O, bagian ekor kuman disebut antigan H) maka hasilnya posifit.
Tes WIDAL sudah digunakan di negara berkembang sejak penemuannya sekitar 100 tahun lalu. Disebut tesnya ‘positif’ jika hingga 4 kali (atau lebih) diencerkan, serum agglutinin O yang berasal dari darah penderita tetap memberikan reaksi positif terhadap antigen kuman tifus di lab.
Karenanya disebut titer > 1 : 160 ( 1 : 40 masih dianggap normal). Sebenarnya tes WIDAL ini tidak terlalu sensitive dan spesifik. Selain harus meunggu pasien berada dalam minggu ke 2 proses penyakitnya berjalan, juga penggunaan antibiotic sebelumnya dan respon kekebalan tubuh yang rendah dari pasien bisa memberi hasil negative yang keliru.
Kultur darah dan sumsum tulang merupakan standar tes diagnostic yang dapat mengkonfirmasi infeksi demam tifus.
Minggu ketiga hingga ke empat , perjalanan penyakit : sejumlah penyakit (komplikasi lanjut) bisa terjadi , mulai dari buang air berdarah, nyeri perut disertaik kegelisahan, menggigil, kebingungan bahkan halusinasi (dampak dari mengingau) dan kelemahan.
Pada kasus berat, gagal ginjal mungkin terjadi dan usus kecil yang mengalami infeksi tipus bisa ‘jebol’ (perforasi) dan menyebabkan infeksi keseluruhan rongga perut (peritonitis) yang berakibat fatal.
Beberapa orang dapat menjadi ‘pembawa’ kuman ini dan terus menularkan orang lain melalui kotorannya selama bertahun-tahun dimana dia sendiri kelihatan ‘sehat’ (disebut asimptomatik carrier). Sekitar 5 % mantan penderita tifus bisa menjadi kelompok ini. Yang paling terkenal di Amerika Serikat adalah seorang perempuan bernama Mary Mallon, seorang juru masak yang mengakibatkan sedikitnya 53 orang terserang tifus, 3 diantarnya meninggal dunia.
(rumah alinda : jika ada waktu akan saya salinkan ulang tulisan lain tentang tipus terkait penelitian terhadap pedagang kaki lima dari Koran Tempo tahun 2008)
Imunisasi atau vaksinasi tidak selamanya efektif apalagi di daerah endemic seperti negara berkembang Indonesia, India dan kebanyakan negara Asia.
Satu-satunya pencegahan terbaik adalah :
• dengan menjaga kebersihan makan minum
• kebersihan jamban,
• mencuci tangan setiap kali habis buang air kecil/besar agar tidak menulari orang lain.