Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2008

Kisah Anting Sahira

Salah satu keunikan  dikaruniai anak perempuan adalah pernak pernik penampilannya yang beraneka ragam.  Aneka bentuk , warna, tampilan mewarnai kesehariannya, termasuk salah satu diantaranya adalah Anting / Giwang/Kerabu (bahasa Medan)

 

Sahira pun tidak luput dari yang satu ini.  Walaupun tindik anting masih kontraversial dari sudut syariah Islam, yang jelas tahun 2005 , RSIA Hermina menawarkan fasilitas ini bagi bayi yang lahir di sana.  

 

Anting pertama Ira dihadiahkan oleh Bibi Tengah Pekayon (Bibi Maria) dan dipasangkan oleh suster di bagian Bayi, sehingga Ibu tidak pernah mendengar tangisan mu saat cuping telinga mungil itu dimasuki oleh jarum pelubang.  Anting ini terbuat dari Emas 24 karat seberat 1 gram harganya Rp 170.000, Bi Tengah membelinya di Toko Mas di Metmal Bekasi yang berada tidak jauh dari RS Hermina Bekasi.

anting-pertama1

 

Anting itu bertahan cukup lama, kurang lebih 1, 5 thn .Setelah itu aktifitas Ira membuat salah satu anting itu nyangkut ntah dimana dan akhirnya hilang sebelah.  Mbak Murni meminta Ibu segera membelikan penggantinya karena tidak ingin lubang di cuping telinga itu tertutup karena tidak ada pengganjalnya.

 

Setelah berdiskusi dengan Nyak Imah (Tukang pijat Langganan) , diputuskan untuk membeli anting model Toge.  Ibu awalnya bingung seperti apa bentuknya, tapi pengalaman Nyak, bahwa Fitri, cucu perempuannya sudah 3 tahun menggunakan anting model ini dan tidak pernah jatuh.  Ibu minta tolong Nyak untuk membelikannya di toko Mas di Pasar Seroja, harganya ½ gram Rp 70.000

 

Ternyata membutuhkan 2 orang untuk menggunakannya, mungkin karena Ira sudah bisa mengapresiasikan rasa sakit ketika itu dengan tangisan, membuat Mbak Murni minta bantuan Mama Dida (tetangga depan rumah) untuk memasang anting tersebut.

 

Sayangnya umur anting ini tidak lama, 6 bulan kemudian, satu dari Anting Toge ini hilang ntah dimana.  Kabarnya nyangkut di kelambu dan akhirnya tidak dapat ditemukan lagi.  Ira cukup bangga dengan satu anting tersisa di telinga.  Lihatlah waktu ke RS Hermina untuk imunisasi Typhoid pada umur 2 tahun, santai aja dengan gaya unik itu.

 

anting-1-saja

 

 

Waktu Mbak Murni melaporkan kepada Ibu bahwa lubang pada telinga yang kanan mulai tertutup, sementara saat itu Ibu tidak punya uang ekstra untuk membeli penggantinya maka diputuskan untuk menggunakan 2 sisa anting yang berbeda model itu di Telinga Ira.

Maka telinga kiri menggunakan Anting dari Bi Tengah yang model klasik Bulat dan telinga kanan menggunakan Anting Toge .

anting-slank

 

Dan dengan gaya slank ini Ira menampilkan diri di Medan, Juni 2008, saat Mama Andi nikah.   Cukup Unik dan Sering dipertanyakan Keluarga yang bertemu.  Ira jadi ngetop deh .  Tapi tidak ada nyindir Ibu bahwa gaya ini tercipta karena Ibu tidak punya duit. Coba kalau ada yang ngeledekin pasti langsung Ibu todong duit patungan buat membeli sepasang anting yang baru.  Hahahah ..

 

Agustus  2008 , Alhamdulillah Ibu punya rezeki untuk membeli Anting baru dengan model bulat dengan diameter yang lebih lebar dibandingkan saat bayi.  Terbuat dari Emas 22 karat seberat 1/2 gram , harganya Rp 65.000  belinya di Pasar Poncol di Komplek Permata Hijau.    Lihatlah betapa manisnya Ira dengan anting baru itu, walaupun kata Mbak Murni, diiringi air mata Ira untuk memasangkannya.

anting-bundar

 

Namun, sekali lagi terjadi pemberontakan , diawali ketika Lebaran Oktober kemarin ke Kutoarjo, Ira melihat dek Nafis (anak Lek Wono) tidak menggunakan anting.    Kebetulan sekali Ibu dek Nafis (Lek Umi) berprinsip bahwa menindik telinga makruh hukumnya karena termasuk kategori menyakiti diri sendiri.  Ira yang ntah kenapa sepertinya melihat bahwa menggunakan Anting itu tidak penting dan memutuskan untuk mencopot anting itu dengan menariknya pada suatu hari saat hendak tidur.     Untung Ibu sempat mendapatkan ke 2 anting tersebut.

 

Alhasil Ira tidak menggunakan Anting lagi.

 

Sampai suatu hari di awal November, Ira memutuskan untuk ikut kelas playgroup di hari Sabtu di RA Darul Hikmah, tempat Sigit sekolah.  Waktu itu Ira sudah menggunakan baju olahraga (bekas Sigit waktu Playgroup) , celana jeans dan sepatu kets.   Menunggu bel masuk , Ira bermain seluncuran di halaman RA.  

 

Ibu Endah salah satu pemilik RA , tanya ke Ibu,  “Ibu , Adik Sigit yang perempuan tidak diajak ?   

 

Jawab Ibu dengan heran atas pertanyaan itu ,  “Ini dia anaknya ! “

 

Ibu Endah : “ Subhanallah , Maaf Ibu, saya kira ini anak Ibu yang lain.  Walaupun saya sebenarnya heran, karena kata pembantu Ibu dia mengasuh satu anak di rumah yang belum sekolah.  Sementara yang sering diajak itu pakai jilbab. “

 

Walah , gini nih saat Ira tampil tomboy. Tanpa Anting, tanpa Jilbab. 

 

Karena peristiwa kehilangan identitas ini, diputuskan Ira untuk membeli anting baru.  Mudah – mudahan jika memilih sendiri modelnya akan memotivasi Ira untuk bertahan dalam menggunakannya.     Maka inilah model yang dipilih Ira. Berurai panjang ke bawah dengan kaitan , kemudian disusul batu berwarna biru selanjutnya kepingan kepala Mickey Mouse, ini dari Emas , 22 karat dengan berat 0,5 gram harganya Rp 65.000 belinya lagi lagi di tukang emas di Pasar Poncol.

 anting-mickey

 

Lantas apakah ini ending kisah Anting Ira ?? ternyata tidak.

Minggu lalu Anting yang kiri copot pada gambar Mickeynya dan kemarin malam copot dan tinggal lingkarannya saja.   Aduh ternyata umur Anting ini tidak sampai satu bulan.

 

 

Hari ini di KRL  Ibu membeli anting imitasi bergambar strawberry seharga Rp 2.000 dengan kaitan dari plastik.   Kalaupun cepat rusak Ibu tidak terlalu sedih karena harganya murah meriah.  Sepertinya harus menunggu 3 tahun lagi Ira dibelikan Anting dari Emas ya.

anting-strawbery

 

 

 

 

Read Full Post »

Pameran Gigi

Setelah itu dengan bangga Sigit berpose dengan gigi yang terikat benang. 

Dan melontarkan permintaan yang ajaib “Ibu, tolong kalungkan benang ini di leher. Sigit mau pakai kalung bermata gigi .  Pasti mantap”

 

Ibu berhasil menggagalkan realisasi permintaan ini, dengan memberikan sebuah kotak kacamata bekas sebagai wadah gigi yang copot.

kotak-gigi

 

Akhirnya malam itu Sigit tidur nyenyak dengan kotak kacamata berada di sebelah bantal.

 

Pagi ini keluar dari kamar tidur, Sigit menenteng kotak kacamata dan memasukkannya ke dalam tas sekolah.

 

“Buat apa di bawa ke sekolah?”

 

“Sigit mau pamerin ke temen – temen Gigi Sigit!”

 

Aduh …

Pamer kok Gigi sih ??

 

Lagipula seharusnya Gigi bawah itu dilempar ke atap biar nanti tumbuhnya bagus. Ini kok malah dibawa ke sana sini sih ??

 

gigi-copot-ke-22

 

Read Full Post »

Older Posts »