Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2009

Hari Minggu, 4 Januari 2009, Sigit dan Sahira ikut Ayah dan Ibu belanja ke Supermarket Naga di Simpang Pondok Ungu

 

Ibu dan Sahira saat itu telah berada di dalam supermarket sedang memilih nugget, tiba-tiba Ayah datang sembari menggendong Sigit yang serta merta menangis begitu melihat Ibu.  

 

Ayah :  “Kaki Sigit kena knalpot ! “

Ibu    :   “Kenapa ?”

Ayah :  “Iya nih Sigit Kolokan .  Disuruh nunggu di pojokan malah  Sigit ikut-ikutan Ayah.   Ayah kan lagi jongkok tuh masang kunci pengaman di roda depan motor.  Udah tahu  ruang gerak antar motor sangat sempit akhirnya betisnya kena panas deh.“

 

Sebenarnya saat melihat ke  bekas luka , Ibu sudah agak panik, apalagi ada kulit yang terbakar itu masih bergantung di pinggir lukanya.   Selintas di benak Ibu keluar tatacara penanganan luka bakar  :

     (1) Di bagian luka disiram air dingin .  

Ngebatin :   Waduh tapi  ini kan di toko gak mungkinlah Ibu bikin becek.

(2)    Diolesi lendir dari Lidah Buaya

Ngebatin  :   Dimana cari lidah buaya ya ?? 

Belakangan di rumah  Ibu teringat seharusnya di rak makanan pasti ada lidah buaya dijual dalam kemasan

(3)    Diolesi mentega

Ngebatin  : takutnya Sigit nolak dan komentar , “emangnya Sigit roti tawar ? diolesin mentega ? ‘’     Heheh enggak deng .. tapi Ibu lebih yakin sama pilihan ke 4.

(4)    Diolesi Pasta gigi.

Ahaaa .. kayaknya ini lebih terjamin hasilnya karena Ibu pernah lakukan saat terkena percikan minyak sayur saat menggoreng cumi-cumi.    Ibu segera berlari ke rak berisi pasta gigi dan mengambil Pepsodent yang kecil, membuka tutupnya dan mengoleskan ke tempat terluka yaitu di betis kaki kiri di bagian belakang.     Ayah mengambil satu troly kosong dan mendudukkan Sigit di sana agar tidak perlu digendong.  Maklumlah Ibu tetap harus belanja kan ?

Oya , Pepsodentnya tetap dibeli kok biarpun sudah dalam kondisi terpakai, walaupun di kasir tidak dipertanyakan kenapa Ibu beli yang sudah terbuka kotaknya.   Ntar kalau gak dibayar takutnya luka Sigit tambah kenapa2.

 

Setelah tiba di rumah, Ibu menurunkan belanjaan dan menyerahkan Sahira ke Mbak Murni untuk diajak tidur siang dan berkata , “ Saya mau ke Dokter dulu.  Sigit kena knalpot”

 

“Beli Bioplancenton aja Bu!”

 

Pikir-pikir jam 2 siang, Dokter Ernelly juga lagi istirahat, ya sudah sebagai pertolongan pertama , segera Ibu ke Apotik mencari obat yang dimaksud

 

Merk                           : Bioplacenton

Produksi                     : PT Kalbe Farma

Berat Obat                  : 15 gam

Berbentuk                    : Salep

Cara penggunaan       : Dibalurkan di tempat luka 3 – 5 kali sehari.

Harga                           : Rp 15.000

 

Kalau di brosurnya, harus dengan resep dokter, tapi Ibu bisa membelinya secara bebas di Apotik.  Rupanya obat ini untuk luka bakar ringan.

 

Setiba di rumah, bekas pepsodent Ibu bersihkan dengan menggunakan kapas yang dibasahi dengan air panas.   Setelah itu Ibu oleskan Bioplacenton.

 

Sigit segera tidur setelah minum susu coklat panas.

Ternyata saat mandi bekas luka itu lupa ditutupi maka kena air , sepertinya menjadi basah kembali, padahal waktu bangun tidur terlihat telah terbentuk lapisan tipis di sekeliling luka bakar.

 

Besok paginya saat mandi, bekas luka ditutupi dengan sapu tangan sehingga air tidak mengenai bekas luka.  Dua hari kemudian lapisan tipis sudah menjadi lebih tebal dan daging bekas luka bakar tidak terlihat jelas.

 

Namun, tantangannya adalah tangan Sigit yang usil mengutil lapisan tebal tersebut.  Alias mengorek-orek luka !  Mungkin gatal kali ya atau iseng ? akibatnya lukanya terbuka lagi.

 

Karena jengkel , Ayah memasang hansaplast di tempat luka dan tidak ditukar selama 3 hari.   Kemarin Ibu buka hansaplastnya ternyata luka tersebut sudah tertutup cukup sempurna.    Hanya saja malam harinya Sigit kutil lagi !

 

Iiihhhh … bingung Ibu jadinya. 

Akhirnya Ibu oleskan lagi salep Bioplancenton dan jari telunjuk dan jempol sebelah kanan yang usil itu Ibu hansaplast .  Jadi setiap mau usil Sigit pasti ingat bahwa itu adalah hal yang terlarang.

 

Tambahan informasi perihal luka bakar : Silahkan akses ke sini

 

Setelah baca-baca Ibu baru sadari ternyata tindakan Ibu bisa mengakibatkan kondisi yang lebih parah pada luka, seharusnya penanganan dini adalah disiram air .  Ini bertujuan untuk melokalisir kerusakan jaringan agar tidak meluas.

 

 

 

 

Iklan

Read Full Post »

Ke Taman Buah Mekarsari

Prolog :

Satu hari di hari Senin, setelah petualangan di Taman Safari, Ayah Sigit mengajak kami mencoba durian di Taman Buah Mekarsari, mungkin karena terprovokasi tayangan di Elshinta TV dan kekecewaannya karena menikmati duren dengan harga mahal dan rasa tak karuan yang ditemuinya di penjual pinggir jalan Paku.

 

Mekarsari

Amazing Tourism Park

Jl Raya Cileungsi – Jonggol Km 3

Cileungsi Bogor 16820

Email : sales@mekarsari.com

Website : www.mekarsari.com

Waktu kunjungan wisata : Selasa – Minggu – 09.00 – 16.30

Senin tutup

 

 

Berangkat hari Senin, 29 Desember 2008 jam 10 pagi dari rumah melalui Bantargebang – Cileungsi  (Non Tol).

 

Di bawah flyover tol , Sigit dan Sahira berantem soal permen yang mengakibatkan Ayah mengambil jalan lurus dibawah flyover dan akibatnya kita nyasar sampai Gunung Putri.    Sempat ada keraguan yang menyebabkan Ayah bertanya kepada petugas di SPBU, sayangnya si petugas ini menyatakan lurus belok kiri 3 km lagi.  Ternyata kita sudah melewati Pabrik Holcim dan saat itu lah Ayah semakin yakin kita nyasar.  Setelah bertanya di sebuah warung, Ayah putar balik lagi dan menuju arah yang tadi telah kita lewati, barulah di pertigaan ada plang coklat bertulis Taman Mekarsari.   Ternyata arah dari Gunung Putri menuju Taman Mekarsari disediakan , tapi dari arah Cileungsi – Bekasi ke sana tidak ada sama sekali.

 

Akhirnya sekali lagi kami lewati flyover tol belok kanan dan bertemu dengan para pengguna jalan dari arah Tol Cibubur.     (Seharusnya jika tidak kesasar dari Cileungsi – Bekasi ketemu fly over belok kiri).   Gara gara kesasar ini kami menghabiskan waktu 1 jam plus bensin … payah deh ..  apa dikirain semua orang Bekasi datang menggunakan tol ??

 

Tiba di Taman Mekarsari dalam kondisi cuaca panas dan berdebu.  Ibu terakhir ke sini 15 tahun yang lalu, saat Taman Mekarsari baru buka beberapa bulan, terus terang cukup mengagetkan karena pintu masuknya berbeda kali ini langsung menuju areal parkir dan ramai sekali.

 

Taman Mekarsari dikunjungi dari segala lapisan, bermobil, bermotor, ber-angkot dan berjalan kaki.  Kondisinya beda banget dengan di Taman Safari Bogor.

 

Tiket masuk per orang Rp 12.000 , tapi anak2 tidak bayar.  Karena lokasi parkir sangat berdebu tentu saja Ibu tidak mau piknik di sekitar parkiran sebagaimana di Taman Safari Bogor.  Segera Ibu mengeluarkan pakaian dari ransel dan menggantinya dengan perangkat piknik dan aksesorisny termasuk makanan dan botol minuman.  Mengingat lokasi piknik yang belum jelas dan untuk menghemat tenaga maka tikar tidak dibawa.

 

Setelah berjalan di tengah banyaknya pengunjung, akhirnya Ayah dan Ibu memutuskan untuk piknik di hamparan rumput yang berada di depan Festival Point menghadap pada belakang panggung Pertunjukan.  Sebagai alas duduk , Ibu tebarkan kain panjang bermotif batik yang merupakan kain gendong Sahira.

Menu piknik kali ini : Bakso (yang kita beli di depan SPBU 1 km dari Taman Mekarsari) + Tempe + Telor dadar + Capcay (yang merupakan menu sarapan di rumah Alinda) .

 

Ternyata Sigit dan Sahira selalu menikmati di manapun berada. Asik bermain dan berfoto saat piknik, termasuk saat gerimis di tengah hari melanda Taman Mekarsari.  Lihatlah gaya mereka berdua.

 

mekarsari-1

Ayah kemudian mengembalikan tas ransel dan perangkat makan ke mobil sembari melaksanakan sholat di Mushola.   Barulah setelah itu , Kita berpetualang. 

mekarsari-2

Diawali dengan berjalan ke Graha Krida Sari (Information Center).  Disini Ibu mengambil  Brosur Taman Mekarsari yang memuat peta lokasi.   Sesaat itu Sigit dan Sahira ingin naik Kereta Wisata hanya saja antriannya begitu panjang.   Kita berjalan mengikut arus pengunjung dan tibalah di Family Walk Zone.  Biaya masuk adalah Rp 3.000 per orang dan kali ini Sigit dan Sahira tidak dihitung.  

 

Tepat di sebelah kiri pintu masuk ada permainan Boat yaitu mengemudikan Boat di kolam.   Sigit begitu antusias ingin mencobanya harga tiket Rp 5.000 untuk 2 putaran besar kolam.   

 

Setelah mengantri 7 anak, tibalah giliran Sigit dan Sigit amat menikmatinya.  

sigit-bawa-kapal

Sayangnya Sahira ingin mencoba juga, tapi Ibu ragu membiarkan Sahira satu kapal dengan Sigit.  Maklumlah kadang-kadang kalian mendadak tidak akur dan itu sangat berbahaya jika terjadi di atas air.   Namun membiarkan Sahira mengendarai boat sendirian juga tidak memungkinkan maklumlah umur 3 tahun belum tepat untuk dilepas.     

 

Untungnya di pojokan ada boat merah jambu yang rusak karena bocor sehingga di parkir di pinggir kolam.  Ayah berhasil membujuk Sahira untuk mengendarainya dan kebahagiaan di wajah Sahira tak berbeda dengan ekspresi Sigit.

ira-bawa-kapal

 

2-kapal-di-mekarsari

Setelah itu kita berkeliling melihat kuda poni, sayangnya untuk menaikinya dan berputar 1 kali lapangan adalah Rp 10.000, kali ini bukan masalah biayanya, tapi antriannya begitu panjang.  Ada 4 kuda poni yang bisa dinaiki.

 

Berjalan per lahan mengelilingi area, Sahira dan Sigit tiba di tepi Danau Wiratama dan Ayah mengajak kalian menaiki perahu untuk mengikuti Wisata Kanal.   Biaya tiket per orang dewasa Rp 10.000 kali ini kalian gratis.   Mungkin karena Sigit dan Sahira belum pernah naik perahu maka tidak satupun dari kalian yang mau duduk di bawah atap, keduanya memilih berada di anjungan perahu agar lebih mudah melihat ke dalam air danau.

perahu-mekarsari

 

Perahu berlayar dan tiba di salah satu pemberhentian yang ternyata merupakan lokasi Water Zone , terdapat beberapa area lokasi dan kebun buah-buahan.  Ternyata para pengguna perahu boleh turun di sini dan jika ingin kembali bisa menaiki perahu berikutnya.    Tentu saja Ayah dan Ibu segera memutuskan turun dan observasi di sana.   

 

Kebetulan saat itu di depan danau ada kebun Melon dan kebun Rambutan. 

Rambutan terlihat merah dan segar siap dipanen.   Beberapa rantingnya yang sarat buah melengkung melewati pagar dan nyaris mencapai tanah.  Sahira dan Sigit memetik beberapa buah rambutan dan menikmatinya.   Hahaha mungkin karena menikmati semua ini dengan menggunakan tiket rasanya kalian tidak mau rugi ya , padahal Mbah Kakung di Jawa punya pohon rambutan di halaman rumah.

ira-di-kebun-rambutan

 

Mengingat hari sudah hampir jam 5 sore dimana akan tiba saatnya lokasi Taman Mekarsari akan tutup, kita tidak berlama-lama dan segera mencegat perahu untuk kembali.   Saat itu kita bertemu dengan Kapal Hias Dragon.  

 

Sebelum pulang Ayah mencari durian di lokasi penjualan Buah dan harganya mahal sekali Rp 50.000 / kg lengkap dengan kulitnya.   Iiihhhh batal deh makan durian.

 

Epilog :

Sepertinya kunjungan ke Taman Mekarsari harus diulang sekali lagi dengan  persiapan yang lebih matang dan tidak di hari libur anak sekolah. Maklumlah kita belum berkeliling dengan kereta Wisata dan belum mencoba durian dan nangkadak.

 

 

Read Full Post »

Older Posts »