Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘belajar’ Category

dear Sigit dan Ira …

Sebenarnya urusan UN untuk kalian masih lama, Sigit masih kelas 4 dan Ira kelas 1.   Tetapi ketahuilah bahwa UN untuk SD menurut Ibu adalah tindakan yang lebay … maka senang sekali dapat kabar ini …  Walaupun ada keraguan secara tahun 2014 ada pemilihan presiden dan diiringi dengan pemilihan menteri dan di Indonesia kita tercinta ini, tiap ganti menteri pendidikan pasti ganti kurikulum.     Heran Ibu,  para menteri itu sepertinya ikut membawa para profesor yang pintar sebagai staf ahlinya   termasuk pintar membuat kurikulum baru,   parahnya lagi sejak era reformasi para menteri berganti bisa 2 – 3 kali dalam 1 cycle pemerintah yang 5 tahun itu.

 

Keep high spirit ya Nak ..

Sekolah bukan satu-satunya tempat mencari ilmu,  tetapi di sekolah , kamu mendapatkan pelajaran lain termasuk tentang kompetisi , juga relasi .     Kapan kapan Ibu ceritakan seperti apa itu kompetisi dan relasi dan seperti apa manfaatnya dalam kehidupan dimasa mendatangmu.   Seperti yang sekarang sudah Ibu alami.   Anggaplah ini sharing, walaupun tentu saja tantangan kehidupan dimasa depanmu jauh lebih berat daripada yang Ibu alami saat ini dan disaat dulu ketika kecil.    Buat Ibu sekolah is fun , make my life’s beautiful and cheerful. 

 

tapi berhubung negeri Indonesia yang tercinta ini sering terkena penyakit lupa , maka ibu copy pastekan berita yang Ibu dapatkan berdasarkan google.  Katanya sih kurikulum ini berlaku 7 tahun mendatang, tapi ntah lah .. kita lihat saja nanti

sumber : http://kkg6.wordpress.com/2013/05/15/un-dihapus-tahun-2013-tidak-ada-un-sdmi/

Terkait dengan akan dilaksanakannya Kurikulum Baru pada 2013 (Kurikulum 2013), pemerintah melakukan perombakan yang cukup besar terhadap Standar Nasional Pendidikan, di antaranya dengan meniadakan Ujian Nasional (UN) Tingkat Sekolah Dasar (SD) dan sederajat (MI/SDLB), dan pelaksanaan Kurikulum Baru yang berbasis kompetensi secara bertahap hingga 7 (tujuh) tahun mendatang.

Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 Mei 2013 lalu.

Dalam PP ini dijelaskan, lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian Pendidikan. “Standar Nasional Pendidikan digunakan sebagai acuan Pengembangan kurikulum untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional,” bunyi Pasal 2 Ayat (1a) PP tersebut.

Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan Pengembangan Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian Pendidikan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, dan Standar Pembiayaan. “Standar Isi dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri,” bunyi Pasal 5 Ayat (4). Pada PP terdahulu tidak ada kata-kata BSNP.

Menyangkut Materi Pendidikan sebagai bagian dari Standar Isi dalam Standar Nasional Pendidikan, PP ini menegaskan bahwa ruang lingkup materi dirumuskan berdasarkan kriteria: a. Muatan wajib yang ditetapkan dalam ketentuan perundang-undangan; b. Konsep keilmuan; dan c. Karakteristik satuan pendidikan dan program pendidikan.

Sementara Tingkat Kompetensi dirumuskan berdasarkan kriteria: a. Tingkat perkembangan Peserta Didik; b. Kualifikasi Kompetensi Indonesia; dan c. Pengusaan Kompetensi yang berjenjang.

PP ini secara tegas menghapus Ketentuan Pasal 6 sampai dengan Pasal 18 pada PP No. 19 Tahun 2005 yang di antaranya berisi tentang: a. Pengelompokan mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (misalnya agama, kewarganeraan, pendidikan jasmani, dsb); b. Pengaturan kurikulum untuk agama, ilmu pengetahuan dan tehnologi; c. Ketentuan mengenai beban belajar; d. Pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal; dan e. Pengembangan kurikulum pada masing-masing satuan pendidikan.

Menyangkut pengadaan Buk Teks Pelajaran, Pasal 43 Ayat (5a) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 ini menegaskan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan menetapkan buku tersebut sebagai sumber utama belajar dan Pembelajaran setelah ditelaah dan/atau dinilai oleh BSNP atau tim yang dibentuk oleh Menteri.

Hapus UN SD

Hal penting lain dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 ini adalah menyangkut ketentuan penilaian hasil belajar. PP ini hanya menegaskan bahwa penilaian hasil belajar digunakan untuk: a. Menilai pencapaian Kompetensi Peserta Didik; b. Bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar; dan c. Memperbaiki proses pembelajaran. “Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian hasil belajar oleh pendidikan diatur dengan Peraturan Menteri,” bunyi Pasal 64 Ayat (2e) PP No. 32/2013 ini.

Adapun ketentuan mengenai penilaian pada mata pelajaran Agama, Ahlak Mulia, Kewarga Negara, Ilmu Pengetahuan, Estetika, Jasmani dan Olahraga, serta Kesehatan yang tertuang dalam Pasal 64 Ayat (3,4,5,6,dan 7) PP No. 19/2005 dinyatakan dihapus.

Menurut PP ini, Pemerintah menugaskan BSNP untuk menyelanggarakan Ujian Nasional yang diikuti Peserta Didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar dan menengah, dan jalur nonformal kesetaraan.

“Ujian Nasional untuk satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar sebagaimana dimaksud, dikecualikan untuk SD/MI/SDLB atau bentuk lain yang sederajat,” bunyi Pasal 67 Ayat (1a) PP No. 32/2013 ini.

Pada Pasal 69 PP ini disebutkan, bahwa setiap Peserta Didik jalur pendidikan formal pendidikan dasar dan menengah dan jalur pendidikan nonformal kesetaraan berhak mengikuti Ujian Nasional, dan berhak mengulanginya sepanjang belum dinyatakan lulus, serta kewajiban bagi Peserta Didik untuk mengikuti satu kali Ujian Nasional tanpa dipungut biaya. Namun pada Ayat (2a) Pasal 69 PP itu ditegaskan, Peserta Didik SD/MI/SDLB atau bentuk lain yang sederajat dikecualikan dari ketentuan mengikuti Ujian Nasional itu.

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 ini bahkan secara tegas menghapus ketentuan Pasal 70 Ayat (1,2) PP No. 19/2005, yang didalamnya disebutkan mengenai materi Ujian Nasional tingkat SD dan sederajat, yang sebelumnya mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matemika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Menurut Pasal 72 Ayat (1) PP ini, Peserta Didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. Menyelesaikan seluruh program Pembelajaran; b. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran; c. Lulus ujian sekolah/madrasah; dan d. Lulus Ujian Nasional.

Khusus Peserta Didik dari SD/MI/SDLB atau bentuk lain yang sederajat, menurut Pasal 72 Ayat (1a) PP ini, dinyatakan lulus setelah memenuhi ketentuan pada Ayat (1) huruf a, b, dan c (tidak ada kata-kata lulus Ujian Nasional, red).

“Kelulusan Peserta Didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri,” bunyi Pasal 72 Ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 ini.

Menurut PP ini pula, ketentuan pengecualian Ujian Nasional SD/MI/SDLB atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 Ayat (1a) berlaku sejak tahun ajaran 2013/2014.

 

Selain itu ada berita lain lagi yaitu : Guru Desak Tak Hanya UN SD yang Dihapus

http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=172069

JAKARTA – Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menuding pemerintah telah merampas hak guru dan sekolah dalam mengevaluasi dan menilai kualitas peserta didik sebagai penentu kelulusan. Hal ini berkaitan dengan dijadikannya ujian nasional (UN) sebagai penentu kelulusan.

Sekjen FSGI, Retno Listyarti menyebutkan, berdasarkan pasal 58 ayat (1) UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas), hak mengevaluasi, menilai peserta didik, merupakan hak pendidik dan satuan pendidikan.

Artinya kata Retno, hak prerogatif menilai siswa berada di tangan guru dan sekolah bukan negara, dalam hal ini Badan Standar Nasional Pendidikan BNSP). Amanat Pasal 58 ayat 1 UU Sisdiknas ini berlaku untuk peserta didik di semua jenjang pendidikan.

“Jadi seharusnya bukan hanya UN SD yang ditiadakan. Tapi UN sebagai penentu kelulusan harus dihapus di semua jenjang, mulai SD sampai SMA/SMK,” tegas Retno kepada JPNN.COM, Rabu (15/5).

Menurutnya, kalau pemerintah tidak mau menyerahkan hak menilai/meluluskan siswa kepada guru dan sekolah, hal itu menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat, karena sama saja pemerintah melanggar UU yang sudah dibuatnya sendiri.

“Kalaupun guru dan satuan pendidikan tidak dipercaya karena diragukan kualitasnya, maka seharusnya dilatih dan dibangun kapasitasnya untuk berkualitas, bukan justru diambil haknya oleh pemerintah untuk menilai peserta didik,” kata Retno

 

 

 

Iklan

Read Full Post »

Belajar Berenang

Sigit dan Ira senang bermain air.
Berenang hanyalah salah satu bagian dari permainan air.

 

 

Tapi menurut Ibu itu adalah langkah awal untuk mampu berenang.

 

Ibu merupakan contoh kasus tentang dominasi mitos dan kurangnya motivasi dari lingkungan.

Begini ceritanya , “ Ketika kecil , Ibu sudah memiliki tinggi tubuh diatas rata rata untuk anak seusia Ibu.  Salah satu kalimat pertanyaan yang sering disampaikan adalah “Anaknya berenang ya ? “  tentu saja jawabannya : Tidak. Dan juga dilain waktu ada kalimat pernyataan seperti ini, “Kalau anak mau tinggi, suruh berenang “.

 

Ibu mengkolerasikan antara , “berenang dan tinggi badan” menjadi sebuah kalimat asumsi yaitu  “Biar tidak tambah tinggi maka jangan berenang!”.

 

Dan Ibu menjadikan berenang merupakan satu kegiatan yang WAJIB dihindari, karena Ibu tidak mau lebih tinggi.    Sayangnya Ibu lupa satu hal, yang kemungkinan karena tidak pernah mendapatkan informasi bahwa Tinggi Badan dipengaruhi oleh Faktor Keturunan.    Sehingga tanpa pun berenang, Ibu sudah ditakdirkan memiliki tubuh yang tinggi karena Ayah , Ibu, Kakek, Nenek, Abang, Kakak ,  Paman memiliki tubuh yang tinggi.

 

Mengapa soal tinggi badan ini menjadi hal yang “mengganggu” untuk Ibu ?   Ini karena ketika SD dan awal SMP kebetulan sekali sebagian teman Ibu tidak tumbuh lebih cepat sehingga mereka berbadan lebih pendek dari Ibu.  Kalau berjalan terkesan Ibu menjadi menjulang, dan Ibu malu karena memiliki pose tubuh yang tidak seperti teman- teman.  Kadangkala Ibu membungkukkan tubuh agar bisa terkean lebih rendah.   Aha untung saja hal itu tidak berlangsung lama sehingga tidak sampai merusak bentuk punggung Ibu.

 

Ketika  Kakek dulu mengajak berenang, Ibu sering menolak ikut.  Juga saat  SMP ada pelajaran wajib berenang, Ibu memilih tetap membayar iuran tanpa pernah berniat hadir di kolam renang .

 

Sekarang ketika sudah bersama Sigit dan Ira, Ibu menyesal tidak pernah belajar berenang karena sedih rasanya tidak bisa bermain air bersama Sigit dan Ira yang begitu menyukai kegiatan di kolam renang.

 

Dan …

Mumpung usia Sigit dan Ira masih belia dan belum punya rasa takut terhadap kondisi di dalam air,  maka diputuskan untuk belajar berenang sedini mungkin.

 

Memang selama ini kita rutin ke kolam renang, tapi Sigit dan Ira lebih memilih di kolam renang bagian anak-anak.   Ayah yang bisa berenang berusaha menjadi pelatih untuk Sigit dan Ira, dan sayangnya tingkat keberhasilan cukup rendah.  Heheheh kadangkala Ira mau menurut dengan instruksi dari Ayah, tapi Sigit menggodanya, mengajak bermain air saja.     Sigit juga sudah berani berenang sendiri dengan gaya “sukasuka hati” dan berhasil bergerak di air  sepanjang kurang lebih 3 m.      Tapi ini bukan berenang yang benar dan baik.

 

Kebetulan ntah kenapa Ira  setuju untuk mengambil les berenang , maka hari Selasa disepakati menjadi hari pertama privat.   Sigit seperti biasa , saat ditawari lebih banyak menolak dan membantah, tapi Ibu dan Ayah sudah paham strategi  yang tepat untuk mengarahkan Sigit.  Caranya adalah jangan tanya pendapat Sigit tapi dukung saja Adik Ira, nanti Sigit tidak mau kalah dan akhirnya ikut dengan apa yang diharapkan oleh Ayah dan Ibu.

 

Les berenang di Anggrek Sport Club di Perumahan  Pesona Anggrek telfon : (021) 99789031

Jadwal berenang  Sigit dan Ira adalah hari  Selasa jam 15.00 bbwi selama 1 jam dengan pelatih yang ditetapkan oleh Pengurus Kolam.   Kebetulan kali ini dapat pelatih wanita , kebetulan Ira juga lebih suka kalau pelatihnya wanita.

Biaya Pendaftaran Rp 25.000 per orang,

Biaya 4 x pertemuan Rp 100.000 atau 8xpertemuan Rp 190.000 dan itu diluar biaya masuk ke kolam.   Tike Masuk Kolam Renang : Senin – Jumat Rp 10.000, sedangkan Sabtu, Minggu & Hari Libur Nasional Rp 12.000.   Oh ya untuk pengantar siswa yang Les Renang free tiket masuk.

 

Selama bulan puasa les berenangnya cuti dulu karena pelatihnya juga cuti, selain itu menghindari makruh aja lah manatau pas berenang masuk air ke mulut dan tertelan, nah loh gimana puasanya tuh  hehehe

 

Mudah – mudahan Sigit dan Ira bisa segera menguasai tehnik dan gaya berenang dengan  baik dan benar, nanti Ibu akan menyusul private juga deh ….

Read Full Post »

Older Posts »