Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sigit’ Category

Belajar Berenang

Sigit dan Ira senang bermain air.
Berenang hanyalah salah satu bagian dari permainan air.

 

 

Tapi menurut Ibu itu adalah langkah awal untuk mampu berenang.

 

Ibu merupakan contoh kasus tentang dominasi mitos dan kurangnya motivasi dari lingkungan.

Begini ceritanya , “ Ketika kecil , Ibu sudah memiliki tinggi tubuh diatas rata rata untuk anak seusia Ibu.  Salah satu kalimat pertanyaan yang sering disampaikan adalah “Anaknya berenang ya ? “  tentu saja jawabannya : Tidak. Dan juga dilain waktu ada kalimat pernyataan seperti ini, “Kalau anak mau tinggi, suruh berenang “.

 

Ibu mengkolerasikan antara , “berenang dan tinggi badan” menjadi sebuah kalimat asumsi yaitu  “Biar tidak tambah tinggi maka jangan berenang!”.

 

Dan Ibu menjadikan berenang merupakan satu kegiatan yang WAJIB dihindari, karena Ibu tidak mau lebih tinggi.    Sayangnya Ibu lupa satu hal, yang kemungkinan karena tidak pernah mendapatkan informasi bahwa Tinggi Badan dipengaruhi oleh Faktor Keturunan.    Sehingga tanpa pun berenang, Ibu sudah ditakdirkan memiliki tubuh yang tinggi karena Ayah , Ibu, Kakek, Nenek, Abang, Kakak ,  Paman memiliki tubuh yang tinggi.

 

Mengapa soal tinggi badan ini menjadi hal yang “mengganggu” untuk Ibu ?   Ini karena ketika SD dan awal SMP kebetulan sekali sebagian teman Ibu tidak tumbuh lebih cepat sehingga mereka berbadan lebih pendek dari Ibu.  Kalau berjalan terkesan Ibu menjadi menjulang, dan Ibu malu karena memiliki pose tubuh yang tidak seperti teman- teman.  Kadangkala Ibu membungkukkan tubuh agar bisa terkean lebih rendah.   Aha untung saja hal itu tidak berlangsung lama sehingga tidak sampai merusak bentuk punggung Ibu.

 

Ketika  Kakek dulu mengajak berenang, Ibu sering menolak ikut.  Juga saat  SMP ada pelajaran wajib berenang, Ibu memilih tetap membayar iuran tanpa pernah berniat hadir di kolam renang .

 

Sekarang ketika sudah bersama Sigit dan Ira, Ibu menyesal tidak pernah belajar berenang karena sedih rasanya tidak bisa bermain air bersama Sigit dan Ira yang begitu menyukai kegiatan di kolam renang.

 

Dan …

Mumpung usia Sigit dan Ira masih belia dan belum punya rasa takut terhadap kondisi di dalam air,  maka diputuskan untuk belajar berenang sedini mungkin.

 

Memang selama ini kita rutin ke kolam renang, tapi Sigit dan Ira lebih memilih di kolam renang bagian anak-anak.   Ayah yang bisa berenang berusaha menjadi pelatih untuk Sigit dan Ira, dan sayangnya tingkat keberhasilan cukup rendah.  Heheheh kadangkala Ira mau menurut dengan instruksi dari Ayah, tapi Sigit menggodanya, mengajak bermain air saja.     Sigit juga sudah berani berenang sendiri dengan gaya “sukasuka hati” dan berhasil bergerak di air  sepanjang kurang lebih 3 m.      Tapi ini bukan berenang yang benar dan baik.

 

Kebetulan ntah kenapa Ira  setuju untuk mengambil les berenang , maka hari Selasa disepakati menjadi hari pertama privat.   Sigit seperti biasa , saat ditawari lebih banyak menolak dan membantah, tapi Ibu dan Ayah sudah paham strategi  yang tepat untuk mengarahkan Sigit.  Caranya adalah jangan tanya pendapat Sigit tapi dukung saja Adik Ira, nanti Sigit tidak mau kalah dan akhirnya ikut dengan apa yang diharapkan oleh Ayah dan Ibu.

 

Les berenang di Anggrek Sport Club di Perumahan  Pesona Anggrek telfon : (021) 99789031

Jadwal berenang  Sigit dan Ira adalah hari  Selasa jam 15.00 bbwi selama 1 jam dengan pelatih yang ditetapkan oleh Pengurus Kolam.   Kebetulan kali ini dapat pelatih wanita , kebetulan Ira juga lebih suka kalau pelatihnya wanita.

Biaya Pendaftaran Rp 25.000 per orang,

Biaya 4 x pertemuan Rp 100.000 atau 8xpertemuan Rp 190.000 dan itu diluar biaya masuk ke kolam.   Tike Masuk Kolam Renang : Senin – Jumat Rp 10.000, sedangkan Sabtu, Minggu & Hari Libur Nasional Rp 12.000.   Oh ya untuk pengantar siswa yang Les Renang free tiket masuk.

 

Selama bulan puasa les berenangnya cuti dulu karena pelatihnya juga cuti, selain itu menghindari makruh aja lah manatau pas berenang masuk air ke mulut dan tertelan, nah loh gimana puasanya tuh  hehehe

 

Mudah – mudahan Sigit dan Ira bisa segera menguasai tehnik dan gaya berenang dengan  baik dan benar, nanti Ibu akan menyusul private juga deh ….

Iklan

Read Full Post »

Setelah kejadian Ira dan kacamatanya,   Ibu akhirnya menjadi lebih waspada dengan aktifitas Sigit dan Ira.   Kalau Ira agar minusnya tidak bertambah, untuk Sigit mudah-mudahan tidak perlu menggunakan kacamata.

 

Dalam satu artikel yang Ibu temukan dikatakan begini cuplikannya :

“Anak-anak di kota besar lebih banyak yang berkacamata dibandingkan anak – anak di desa.   Anak – anak di desa lebih banyak beraktifitas atau bermain di luar rumah.   Sedangkan anak – anak kota lebih suka bermain dengan gadget.

Menurut dr Darwan M Purba SpM, gangguan mata pada anak – anak di kota lebih berpotensi dibandingkan anak – anak di desa.   Hal itu disebabkan anak – anak di perkotaan lebih “akrab” dengan gadget seperti permainan di layar televise atau games di computer, telephone genggam dan PC tablet.   Alat – alat modern tersebut membuat anak – anak betah bermain dengan gadget dan tidak mau lagi bermain di luar rumah.

 

Kebanyakan berhadapan dengan layar gadget mata anak menjadi terganggu.  “Bola mata anak masih lembek.  Kalau dipaksa untuk melihat dari jarak dekat seperti membaca, melihat gadget dipaksa untuk bekerja terus menerus, sehingga mempengaruhi panjang, dinding bola mata.   Akibatnya mata menjadi minus, “ ujarnya.

Selain mempengaruhi mata, tentu saja terlalu banyak diam juga membuat obesitas dan psikologis anak tidak terlatih dalam pergaulan dengan teman sebaya.

 

Sementara itu, anak – anak desa yang masih akrab dengan permainan outdoor, matanya tetap terbiasa melihat jarak jauh.  Mereka kerap bermain layanan, kelereng dan bermain bola.  Mata mereka juga tidak terlalu bekerja keras.

Darwan menyarankan agar mata dan tumbuh kembang anak secara keseluruhan tidak terganggu, anak jangan terlalu lama diam dalam rumah, membaca , menonton televise atau bermain gadget.   Setiap satu jam membaca atau melihat TV atau bermain gadget, biarkan anak bermain outdoor, agar tubuhnya terus bergerak dan bergaul dengan teman sebaya.

TIPS  AGAR MATA ANAK  TIDAK TERGANGGU

  • Menonton TV dibatasi baik durasi dan jarak menontonnnya jangan terlalu dekat
  • Bermain games di computer harus dibatasi.   Disarankan satu jam setiap minggu
  • Ketika membaca buku, tiap satu jam istirahata dan bermain di luar ruang
  • Biasakan makan buah dan sayuran untuk kesehatan mata.

Kebetulan kita tinggal di kompleks yang lingkungan dimana nilai social dan kekeluargaannya cukup kental .    Jadi masih ada anak kecil yang berkeliaran di luar untuk bermain, tidak terlalu ramai kendaraan yang lalu lalang, dan juga tidak terlalu sepi seperti di cluster.    Namanya juga kompleks rumah tumbuh .    Sigit masih bisa punya banyak teman bermain seusia, bisa bersepeda keliling kompleks , main petasan, main ke sawah di sebelah kompleks, menembaki buah mangga dengan ketapel dari pipa paralon, main sepakbola, bermain “pecahpiring”, bermain galah asin dan beberapa permainan tradisional lainnya.

Tapi mungkin karena dulu Ibu tinggal di rumah yang bukan di kompleks ataupun di perkampungan  maka Ibu  jarang sekali bermain dengan anak tetangga.   Lebih sering main di rumah.    Makanya kadangkala menjadi dilema, di satu sisi Ibu menginginkan Sigit tidak keluyuran ataupun bermain panas , apalagi beberapa temanmu sering menggunakan kata yang menurut Ayah dan Ibu kurang santun, ataupun kelakuannya kurang terpuji.  Ibu khawatir  Sigit ketularan.     Hanya saja jika dikurung maka Sigit akan menjadi anak perkotaan, yang berkutat dengan  Komputer, Games ,  Internet yang kebetulan di rumah kita berwifi dan unlimited , ngutak atik Blackberry Ibu,  nonton televise, baca buku  (untung saja saat ini Sigit belum kecanduan dengan Komik, walaupun sempat mengkoleksi beberapa komik Naruto).       Benar – benar serba salah jadi Ibu jaman sekarang.

Mudah-mudahan Ibu bisa menerapkan kombinasi antara Bermain Outdoor dan Indoor dan juga menyeimbangkan informasi yang Sigit peroleh dari lingkungan dengan hal hal yang Benar dan Baik yang Ibu harapkan bisa membentuk karakter Sigit yang lebih mandiri dan berakhlak mulia.

 

Memang lucu juga sih, misalnya di Hari Sabtu, bangun tidur Sigit langsung menuju computer, karena memang Sabtu dan Minggu hari boleh main computer.    Setelah 2 jam, Ayah atau Ibu sibuk menyuruh Sigit meninggalkan computer untuk main di luar rumah.    Nanti giliran 12 siang saat Adzan Dzuhur berkumandang, Sigit dipaksa oleh Ibu untuk masuk ke dalam rumah karena matahari sudah lebih terik.       Kadangkala Sigit protes ketika sedang asik menonton youtobe, Ibu menyuruh Sigit mematikan computer karena sudah lewat 2 jam.  “Ibu , diluar tidak ada teman.   Semua teman Sigit lagi pergi”

Ya udah kalau gitu Sigit di luar main sama Ibu aja.

“Mana asik main sama Ibu, emang Ibu bisa main bulutangkis ? bisa main bola ? mau main sepeda ? “

Hello………. Sigit … Ibu ini jagoan main bulutangkis, dulu juga sering main sepakbola  sama Mama Jef dan Mama Andi,  Ibu kuliah naik sepeda, jadi tak ada sulitnya itu semua.  Bahkan Ibu jagoan manjat pohon, hal yang Sigit belum bisa kan ?

Demi kegiatan outdoor,  Ibu yang menjadi hari Sabtu dan Minggu sebagai hari boleh tidur seharian “terpaksa  meninggalkan “  hobi yang mengasikkan itu demi Sigit.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »