Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Trend’ Category

Ketertarikan Sigit pada Sepakbola diawali dari Piala Dunia 2010 lalu dan berakhirnya  Piala Dunia tidak mengurangi minatnya terhadap Sepakbola .   Apalagi ternyata dunia pertelevisian amat memanjakan pemirsa di Indonesia.    Aneka Liga bergantian ditayangkan di berbagai channel tivi, baik laga nasional maupun internasional.

 

Sigit dan geng kecilnya di Alinda tetap rutin memainkan bola plastiknya di depan rumah, kadang jika pemain amatiran menjadi lebih banyak, ajang bermain berpindah ke lapangan RT.     Permainan bola  menjadi lebih ramai dan lama di malam Sabtu dan malam Minggu, keesokan harinya  anak2 itu tidak sekolah.   Jam sepuluh malam dengan badan keringetan, celana piyama yang kotor dan sandal berdebu, Sigit menenteng bola plastic pulang ke rumah.

 

Dan teriakan Ibu tetap sama …

“Cuci kaki, cuci tangan , cuci muka , ganti baju.  Ingat pake sabun !”

 

Sebagai salah bentuk support terhadap kegemaran Sigit ini, Ibu minta tukang Koran mengantarkan Tabloid Soccer ke rumah setiap kamis     Dan sering masih takjub melihat Sigit serius menamatkan semua artikel di tabloid itu.

 

Di Piala Eropa 2012 kali ini, Sigit menjalankan ritual malam secara mandiri.

Mengangkat karpet dari kamar , menggelarnya di depan tivi, menggotong kasur busa , memasang sprei, mengangkuti 3 – 4 bantal , menebarkan selimut, memasang kipas angin.   Dan …….siap untuk begadang sendirian.

Kadang Sigit merayu Ira untuk nonton bareng, walaupun yang sering terjadi, Adek Ira malah tidur duluan, dan hanya tersentak kali Sigit berteriak “GOLLLLLLLLL “.  Biasanya Ira akan membuka mata sedikit dan berkata , “Siapa yang menang, Bang?”.   Dan tidak menunggu jawaban, Ira melanjutkan tidurnya kembali.

 

Hanya saja karena pertandingan pertama selalu dimulai pukul 22.30 malam,  sementara selama ini jadwal masuk kamar tidur adalah jam 21.00, maka kegiatan untuk menunggu jam tayang , Sigit dan Ira biasanya bermain boneka,  menggambar dan bolak balik membuka kulkas mencari makanan.

Kadang-kadang dengan sisa uang Jajan Sigit membeli kuaci matahari atau  kacang atom , seringkali bekal cemilan istirahat dhuha di Sekolah tidak dimakan dan disimpan untuk bekal nonton bola.

Namun  akhirnya lebih sering menodong Ibu menyediakan makanan kecil teman nonton bola.     Memang sih kalo Ibu lagi rajin dan tidak terlalu mengantuk, Ibu rebuskan jagung, membuatkan popcorn ataupun menyediakan tempe goreng.      Hanya saja yang paling praktis adalah bikin mie instant dari Indomie yaitu jenis  Mie Goreng yang merupakan kegemaran Sigit , selama sausnya cuma ½ sachet saja.

harga sebungkus Mie Goreng di warung depan rumah Rp 1.500

 

Selama ini jatah makan Indomie adalah satu kali seminggu  itu pun di hari Sabtu atau Minggu, saat giliran Ibu memasak untuk keluarga karena Ibu sedang libur kerja.    Tapi sejak  Piala Eropa 2012, Sigit maunya tiap malam.   Tentu saja Ibu menolak karena tidak sesuai dengan perjanjian, baiklah masih diizinkan deh 3 hari sekali.

 

Sigit  terpaksa menyetujuinya aturan main yang Ibu tetapkan  dan dengan berbaik hati,   Sigit meminta melakukannya sendiri, karena terinspirasi teman sekelasnya, Abiu, yang sudah pernah memasak sendiri Indomie dengan  menggunakan kompor gas.         Ibu mengawasi proses masak memasak yang dilakukan Sigit dengan sedikit ancaman bahwa tidak boleh memasak tanpa pengawasan, karena Ibu masih khawatir Sigit tidak disiplin dalam mematikan kompor gas.

Ternyata buatan sendiri lebih enak ya Git … kamu melahapnya begitu nikmat.

Hari ini Ibu berkelana di dunia maya dan singgah di sebuah situs yang memuat artikel yang cukup menarik . : http://doktersehat.com/salah-kaprah-mi-instan-ditakuti-mi-lain-digemari/

 

Moral story yang bisa Ibu ambil adalah antara lain :

  • Sampai saat ini, para orang tua bahkan sebagian dokter masih khawatir dan takut akan bahaya mi instan. Padahal berkali-kali BPOM mengatakan mi instan dijamin aman, pengawetnya aman dan tidak berbahaya dikonsumsi dalam jumlah tertentu atau kewajaran. Tetapi inilah keunikan klasik masyarakat Indonesia, masyarakat sangat fobi dengan mi instan kemasan yang sudah berstandar Internasional tetapi tidak khawatir dengan mi produksi lain berupa mi tradisonal dan mi kemasan “home product” lainnya yang masih tidak diketahui jenis dan jumlah bahan pengawetnya.
  • Sebenarnya penggunaan pengawet makanan dalam industri makanan adalah hal yang biasa. Dapat dikatakan hampir 90% industri makanan kemasan tidak terlepas dalam penggunaan bahan pengawet. Bahkan penggunaan bahan pengawet makanan berbagai industri makanan yang tidak mencantumkan label BPOM mungkin justru malah lebih menyeramkan. Tetapi, bila isu ini mengusik keamanan mi instan akan semakin menghebohkan karena mi instan adalah merupakan salah satu makanan instant yang paling banyak dikonsumsi.
  • Penggunaan mi instan pada usia anak cukup tinggi. Karena sekitar 30% anak usia di bawah 9 – 12 tahun mengalami gangguan mengunyah dan menelan. Pada kelompok anak seperti ini seringkali mengalami pilih-pilih makanan. Biasanya, anak-anak tidak menyukai makanan yang sulit dikunyah dan ditelan seperti makanan berserat keras seperti sayur, daging sapi dan nasi. Sebaliknya makanan yang tidak berserat seperti mi, telor, nugget , biskuit, krupuk dan makanan crispy lainnya lebih banyak digemari. Hal inilah tampaknya yang mendasari mengapa pada anak-anak lebih sering mengkonsumsi mi.
  • Kondisi tubuh setiap individu juga sangat berpengaruh. Pada manusia sehat pada umumnya mungkin zat pengawet tersebut tidak terlalu berdampak karena sistem tubuh yang baik dapat mengeliminasi dan mengeluarkan zat kimia tersebut dalam tubuh. Tetapi pada penderita tertentu khususnya usia anak, sistem tubuhnya tidak berjalan sempurna, sehingga zat kimia tersebut sulit dibuang dari tubuh dan akan tersimpan dan menganggu fungsi tubuh lainnya.
  •  Hal ini harus diwaspai pada usia anak dengan gangguan saluran cerna seperti hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Gangguan hipersensitifitas saluiran cerna ini biasanya terjadi pada penderita alergi makanan, seliak, intoleransi makanan, penderita Autism, ADHD dan berbagai penderita gangguan metabolisme lainnya. Pada gangguan hipersensitivitas saluran cerna tersebut terjadi ketidakmatangan saluran cerna. Pada penderita seperti ini sebaiknya lebih mewaspadai penggunaan bahan pengawet termasuk mi instan. Gejala gangguan hipersensitifitas saluran cerna yang harus diwaspadai adalah gangguan BAB berupa kesulitan atau sering buang air besar. Gejala saluran cerna lainnya adalah mudah muntah, nyeri perut, mulut berbau, sering kembung, sering buang angin, air liur berlebihan, lidah sering kotor dan putih dan berbagai gejala lainnya.
  • Bahan pengawet berbahaya ini justru tampak lebih berisiko sering dijumpai pada mi buatan industri rumahan karena pengawasannya yang lemah dari pihak berwenang. Pengawet berbahaya seperti formalin yang mengancam di sekitar masyarakat justru kesannya sangat diabaikan.
  • Ciri mi yang berbahan pengawet berbahaya dan bahan pewarna berbahaya adalah biasanya mi tampak berwarna kuning terang, kenyal dan keras dan awet sampai beberapa hari. Sebakliknya mi yang tanpa bahan pengawet berbahaya biasanya justru warnanya tidak menarik, pucat, lembek dan lunak.
  • Sebaiknya orangtua harus sangat selektif dalam membeli makanan instan. Pembelian makanan instan sebaiknya harus dipilih yang mencantumkan label ijin BPOM. Dengan data tersebut pihak yang berwenang dalam hal ini BPOM dapat menentukan dengan pasti batas keamanan suatu bahan pengawet yang digunakan. Bila hal itu dilakukan maka anak-anak penggemar mi instan dapat melahap kenikmatan instan tanpa harus dihantui kecemasan pada orangtuanya. Meski pengawet dalam mi instan dalam jumlah tertentu aman, tetapi bila sering konsumsi dalam jumlah besar atau jangka panjang sebaiknya lebih sering tanpa memakai bumbu dalam mi tersebut. Karena justru pengawetnya ada pada bumbu yang terkandung bukan dalam bahan minya. Jadi sebaiknya orangtua memakai bumbu bawang merah, bawang putih dan garam.

Ps.  Apabila berkenan ,    mohon untuk membaca langsung artikel ini dari situs yang memuatnya  dengan cara klik pada link berikut : . : http://doktersehat.com/salah-kaprah-mi-instan-ditakuti-mi-lain-digemari/

Artikel tersebut mengambil sumber dari : health.kompas.com & kompasiana.com

Iklan

Read Full Post »

Bermain Catur

Trend permainan terbaru Sigit adalah catur.

Iya catur …

Dan ini bukan hanya dimainkan oleh Sigit, tapi juga oleh geng kecilnya, Dafi dan Ozan, juga Mas Yofa.

 

Sigit ngotot banget minta dibelikan papan catur yang besar seperti yang dilihatnya di pos ronda dengan lapangan RT.    Ooh, rupanya papan catur itu lah yang memicu Sigit dan teman-teman tergila gila dengan catur.      Ketika kalian bermain sepakbola di lapangan , tiba tiba datanglah hujan karena takut kebasahan ketika berlari pulang ke rumah maka diputuskan untuk berteduh di pos ronda.    Mungkin papan catur ini milik salah satu bapak di RT kita dan ditinggalkan disana sebagai sarana hiburan ketika ronda.

 

Ibu tidak mau membelikannya, takut Sigit tidak menjaga papan catur dan bidaknya dengan baik.    Ingatkan dulu Ibu pernah belikan papan catur kecil bermagnet, malah tidak pernah dimainkan.    Sigit malah sibuk menempelkan si buah catur itu di kulkas, di mobil dan tidak dipedulikan, sehingga akhirnya beberapa buah catur hilang , tanpa Sigit merasa kehilangan.

 

 

Saat kita mengantarkan Mama Jefri ke Pool Damri, beliau menyodorkan sepuluh ribu rupiah kepada Sigit dan berkata, “Nanti beli papan catur ya “

 

Terus Ibu berkomentar, “ Aku bukan gak mampu membelikan, tapi takut jadi sia sia “

 

Jawab Mama Jefri, “heheha Aku tahu kok, tapi yakinlah kali ini Sigit pasti menjaganya, soalnya duit pembelian papan catur itu dariku heheeheh “

 

Dan memang terbukti sampai saat ini , sudah 1 bulan, papan catur dan buah caturnya masih lengkap, mungkin Sigit ingin membuktikan bahwa dia sudah mampu menjaga barang.

 

Waktu itu pulang dari Pool Damri , kita langsung singgah di toko Fakhri untuk membelikan papan catur seharga Rp 13.000.    Dan lucu juga melihat Sigit menenteng papan catur dan berkunjung ke rumah Ozan , kesannya mencari lawan Heheeheh

 

Ira pun seperti biasa selalu tertarik dengan apapun minat Sigit.

Jadi kadangkala saat Sigit  serius dengan komputernya, maka Ira mengajak Ibu bertanding catur.   Kalau Sigit semakin hari semakin pintar menganalisa segala posisi buah catur baik posisi sendiri maupun posisi lawan, sehingga lebih membutuhkan waktu lama untuk mengalahkan Sigit.       Sedangkan Ira tidak peduli akan kemenangan,  dia lebih memperhatikan berapa banyak buah catur milik lawan yang telah dimakan.

 

Begitu libur semester selesai, maka geng kecil pun sudah mulai sibuk dengan aktifitas belajar sehingga acara bermain catur tidak sering lagi dilakukan.     Akibatnya Sigit kekurangan lawan.   Mulailah Sigit memanfaatkan laptop Ayah yang kadang menganggur untuk memainkan game catur yang terinstall disana.    Sayangnya melawan computer Sigit hanya bisa menang satu – dua kali , setelah itu kalah terus.

 

“Ibu , kalau ke Gramedia, tolong belikan Sigit buku catur”

 

Memangnya Sigit kurang pintar ?? sepertinya udah canggih tuh ..

 

“Kalau sudah pintar, kenapa Sigit kalah terus lawan computer ?? Jadi Sigit mau punya buku catur biar bisa lebih jago lagi ….. “

 

 

Read Full Post »

Older Posts »